|
New Page 1
New Page 1
KESIAPAN ALUTSISTA TNI AU
oleh
:
Marsekal Muda TNI Rukma Susetyasta, Asrena Kasau
Seperti diketahui bersama bahwa
selama ini TNI AU mengalami kesulitan dalam meningkatkan kesiapan operasional
alutsistanya, dikarenakan adanya embargo dari Uni Eropa dan Amerika Serikat,
disamping terbatasnya alokasi anggaran. Penurunan kesiapan alutsista, sangat
terasa pada kesiapan pesawat terbang dan radar. Melalui forum Komunikasi Litbang
dan dengan kerjasama yang sudah dirintis selama ini, diharapkan dapat dicari
jalan keluar bagaimana TNI AU mengurangi ketergantungan dari pihak luar, menuju
kemandirian dalam pengadaan dan pemeliharaan alutsista.
Dalam doktrin TNI AU swa Bhuwana
Paksa tercantum tugas pokok TNI AU sebagai berikut :
-
Selaku penegak kedaulatan
negara di udara mempertahankan keutuhan wilayah udara nasional dan
integritas bangsa bersama-sama dengan segenap komponen kekuatan pertahanan
negara lainnya, serta menyelenggarakan penegak hukum di wilayah udara
nasional.
-
Mengembangkan potensi
nasional menjadi kekuatan pertahanan negara aspek udara.
-
Melaksanakan bhakti TNI AU
dalam rangka mendukung pemerintah untuk misi kemanusiaan dan membantu
menanggulangi bencana alam yang terjadi di dalam ataupun di luar negeri
serta kepentingan kesejahteraan rakyat.
-
Ikut berperan aktif dalam
tugas-tugas pencapaian dan pemeliharaan perdamaian di bawah misi PBB dalam
rangka mewujudkan perdamaian dunia.
Untuk mendukung tugas pokok di
atas, TNI AU telah dilengkapi dengan unsur-unsur sebagai berikut :
-
Personel
-
Organisasi
-
Software
-
Alutsista
-
Fasilitas perlengkapan
Dari ke-5 unsur tersebut, ada 2
unsur yang kesiapannya sangat tergantung kepada luar negeri yaitu : Alutsista
(Alat Utama Sistem Senjata yang terdiri dari Pesawat Terbang, Radar, Peluru
kendali, Meriam Hanud) dan fasilitas peralatan (Runway : Alat-alat bantu
navigasi dan lain-lain). Apabila kita bicara tentang hal tersebut, tentu sangat
erat kaitannya dengan anggaran yang tersedia.
Bagaimana kondisi dari alutsista
yang dipunyai oleh TNI AU saat ini ? kekuatan nyata alutsista TNI AU saat ini
terdiri dari 252 unit pesawat terbang dan 16 unit radar serta tidak mempunyai
peluru kendali dengan rincian sebagai berikut :
a. Pesawat Tempur (89
pesawat) :
-
F-16 Fighting Falcon,
kekuatan 10 pesawat
-
F-5 Tiger, kekuatan 12
pesawat.
-
A-4 Sky Hawk, kekuatan 17
pesawat.
-
Hawk 100/200, kekuatan 35
pesawat.
-
Mk-53, kekuatan 9 pesawat.
-
OV-10 Bronco, kekuatan 9
pesawat.
Kesiapan rata-rata 25 pesawat
(28 %).
b. Pesawat Latih (66
pesawat) :
-
AS-202 Bravo, kekuatan 27
pesawat
-
T-34 Charli, kekuatan 16
pesawat
-
SF-260 Marchetti, kekuatan
19 pesawat
-
KT-1B, kekuatan 4 pesawat
Kesiapan rata-rata 45 pesawat
(68 %)
c. Pesawat Intai (3
pesawat) :
-
B-737, kekuatan 3 pesawat.
-
Untuk mendukung kesiapan
pesawat intai agar laik misi, TNI AU memiliki 4 (empat) set mission
equipment yang diinstalasi pada 3 (tiga) pesawat dan 1 (satu) buah FGS
(Fixed Ground station).
Kesiapan rata-rata 1 pesawat (33
%).
d. Pesawat angkut (4
pesawat) :
-
C-130 KC Tanker, kekuatan 2
pesawat
-
F-27 TS, kekuatan 6 pesawat
-
CN-235, kekuatan 6 pesawat
-
C-212 casa, kekuatan 7
pesawat
-
C-130B, kekuatan 10 pesawat
-
C-130H, kekutan 10 pesawat
Kesiapan rata-rata 14 pesawat
(34 %)
e. Pesawat VIP (12
pesawat) :
-
F-27 VIP, kekuatan 1
pesawat.
-
F-28 VIP, kekuatan 3
pesawat.
-
C-130 VIP, kekuatan 2
pesawat.
-
NAS-332 VIP, kekuatan 5
pesawat.
-
B-707 VIP, kekuatan 1
pesawat.
Kesiapan rata-rata 9 pesawat (75
%).
f. Pesawat
Helikopter (41 pesawat) :
-
BELL-47 G/SOLLOY, kekuatan
12 pesawat
-
S-58 T/SIKORSKY, kekuatan 9
pesawat
-
SA-330 PUMA, kekuatan 9
pesawat
-
Latih Colibri sebanyak 8
pesawat
-
NAS-332 sebanyak 3 pesawat.
Kesiapan rata-rata 22 pesawat
(54 %)
g. Radar :
-
10 unit radar Early Warning
(EW)
-
6 unit radar Ground Control
Interception (GCI)
-
4 pusat operasi hanud dan 1
dalam proses pembangunan
Kesiapan operasi rata-rata 8
jam/hari dari sasaran 12 jam/hari.
h. Senjata Hanud
Vertikal.
Senjata hanud vertikal yang ada
saat ini terdiri dari tripple gun hispano buatan tahun 1956 dan cannon 30 mm
buatan tahun 1942.
Dari penjelasan di atas terlihat
bahwa kekuatan pesawat terbang 252 pesawat, kesiapan rata-rata 116 pesawat
(sekitar 46 %).
Kesiapan alutsista yang rendah
tersebut dikarenakan keterbatasan dukungan anggaran. Oleh karena itu untuk
mempertahankan kesiapan alutsista yang ada saat ini, setiap tahun dibutuhkan
anggaran.
Sebanyak Rp. 6,2 Trilyun,
sedangkan alokasi anggaran yang diterima hanya sebesar Rp. 350 Milyar (5,6 %).
Alokasi anggaran yang diterima saat ini sebagian besar digunakan untuk pengadaan
dan perbaikan suku cadang. Permasalahan tersebut di atas semakin dipersulit
dengan adanya embargo dari negara-negara Uni Eropa dan Amerika Serikat.
Karena rendahnya kesiapan
alutsista khususnya pesawat, maka alokasi jam terbang yang dapat disiapkan
menjadi sangat kurang. Hal ini akan mengakibatkan penurunan profesionalisme dan
tingkat ketrampilan para penerbang. Untuk mendukung profesionalisme para
penerbang, minimal dibutuhkan 15 jam terbang untuk penerbang pesawat tempur dan
20 jam terbang untuk pesawat angkut perorang perbulan.
Hal di atas tidak pernah
tercapai, oleh karena itu untuk memelihara profesionalisme tersebut ditempuh
upaya-upaya menugaskan perwira penerbang bertugas di Staf serta menggunakan
pesawat Marchetti (Hibah dari pemerintah Singapura) dan latihan Simulator.
TNI AU sangat menyadari bahwa
ketergantungan pada negara-negara barat kurang menguntungkan, sehingga salah
satu solusinya adalah pengadaan pesawat ke negara lain misalnya Eropa Timur yang
tidak bergabung dengan Nato (contoh : Pengadaan pesawat Sukhoi dari Rusia).
Disamping itu pemberdayaan industri strategis nasional/ swasta dan Perguruan
Tinggi menjadi salah satu alternatif solusi dalam pemecahan masalah tersebut.
Saat ini TNI AU telah mengikat
kontrak pengadaan perbaikan alutsista dengan PT. Dirgantara Indonesia antara
lain sebagai berikut :
a. Pengadaan 16 pesawat Helikopter super puma NAS-332 dengan kontrak Nomor :
KJB/010/DN/M/1998 tanggal 9 Pebruari 1998.
b. Pengadaan 3 pesawat CN-235 MPA dengan kontrak Nomor : KJB/009/DN /M/1996 tanggal
22 Juni 1996.
c. Re-engine/Refurbishment Pesawat Helikopter Puma SA-330
dengan kontrak Nomor :
KJB/019/DN/M/2000 tanggal 22 Pebruari 2000.
d. Refungsionalisasi Ops Cabin radar.
e. Kontrak-kontrak kerjasama yang lain dengan SBU (Strategic Business Unit) ACS
(Air Craft Services), SBU UMC (Universal Maintenance Center), SBU SMA (Special
Mission Aircaft) dan SBU TES (Technologi Engineering & Service).
Kontrak-kontrak tersebut di atas
sudah beberapa kali diadakan amandemen dikarenakan delivery yang selalu
tidak tepat waktu. Dari sisi pendanaan TNI AU berusaha untuk memenuhi
pembayaran, namun disesuaikan dengan prestasi/kemajuan pekerjaan. Hal ini sangat
mengurangi kepercayaan dari pihak TNI AU.
Langkah-langkah lain yang
ditempuh TNI AU adalah memberdayakan Dislitbangau dengan mengalokasikan sejumlah
anggaran untuk mengadakan pengkajian dan penelitian serta pembuatan suku cadang.
Beberapa prestasi yang telah dihasilkan antara lain :
a. Bom
tajam BT-250 bekerja sama dengan PT. Pindad dan PT. Batara dan saat ini sudah
mendapat sertifikat dan sudah produksi.
b. Bom
latih asap bekerjasama dengan PT. Pindad.
c. Drag
chute pesawat F-16 sudah sampai pembuatan prototipe.
d. High
drag bomb masih dalam proses pembuatan prototipe.
e. Pembuatan roket propellant bekerja sama dengan Lapan dan PT. Dahana.
Kegiatan Litbang TNI AU TA. 2003
dan TA. 2004.
a. Redesain dan pembuatan fasilitas uji statis motor rocket tahap II. Tujuannya
adalah untuk membangun laboratorium propellant Dislitbangau agar dapat
melaksanakan uji statis motor roket dengan baik.
b. Penelitian dan pembuatan blast effect anti personel bomb tahap I bekerjasama
dengan PT. Pindad. Tujuannya agar diperoleh bom anti personel dengan fragmentasi
yang telah ditentukan dan me-ngurangi ketergantungan khususnya pemenuhan
kebutuhan bom.
c. Penelitian dan pengkajian penggunaan bom MK-I dan bom MK-12 pada pesawat F-16.
Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan bom dan mengurangi ketergantungan
terhadap luar negeri.
d. Penelitian dan pembuatan adapter trolley stand engine F-100 tahap I. Tujuannya
adalah untuk memenuhi kebutuhan Skatek 042 Lanud IWJ Madiun.
e. Penelitian dan pengkajian serta refungsionalisasi harmonisasi sistem
persenjataan pesawat F-16 tahap I. Tujuannya adalah untuk menambah kemampuan
Skadron 3 Lanud IWJ Madiun dalam melakukan harmonisasi senjata pesawat F-16.
f. Penelitian dan pengembangan laboratorium elektronika AAU. Tujuannya adalah untuk
meningkatkan mutu pendidikan dan kualitas laboratorium elektronika AAU.
Selanjutnya rencana kegiatan
Litbang TNI AU TA. 2004 antara lain :
a. Melanjutkan penelitian dan pembuatan prototipe blast effect anti personel bomb
tahap II bekerjasama dengan PT. Pindad.
b. Melanjutkan penelitian dan pembuatan adapter trolley stand engine F-100 tahap
II.
c. Melanjutkan penelitian dan refungsionalisasi harmonisasi sistem persenjataan
pesawat F-16 tahap II.
d. Penelitian dan pembuatan enkripsi/dekripsi sinyal suara dengan DSP (Digital
Signal Processor) guna pengamanan informasi antar satuan. Tujuannya adalah
terbentuknya sistem pengamanan suara melalui jalur telepon untuk digunakan
komando antar Lanud (Satuan).
Untuk mengurangi ketergantungan
dengan pihak luar dan meningkatkan kemandirian industri pertahanan khususnya
yang berkaitan dengan alutsista, TNI AU sangat mengharapkan kerjasama berlanjut
dengan industri strategis untuk memenuhi kebutuhan alutsista antara lain :
a. Kebutuhan 14 anti radar
b. Kebutuhan pesawat latih (Rotary wing dan fixed wing)
c. Kebutuhan spare part pesawat tempur dan angkut seperti engine, avionic dan
sistem persenjataan.
d. Kebutuhan spare part pesawat helikopter seperti main gear box.
e. Kebutuhan pengembangan sistem informasi intelijen dan logistik (ALMS).
f. Kebutuhan pesawat tanpa awak/berawak untuk keperluan air surveillance.
g. Kebutuhan pengembangan sistem peluru kendali jarak pendek dan sedang.
h. Kebutuhan meriam Penangkis Serangan Udara (PSU).
i. Kebutuhan modifikasi alat pemotretan udara.
Untuk memenuhi kebutuhan
tersebut sangat diharapkan partisipasi dari kalangan industri strategis
nasional/swasta dan Perguruan Tinggi serta pihak-pihak lain yang memungkinkan
untuk berpartisipasi.
Dalam upaya meningkatkan sumber
daya manusia, TNI AU telah menjalin kerjasama dengan beberapa Perguruan Tinggi
antara lain : ITB, UI, UGM dan ITS dalam program sarjana S-1, S-2 maupun S-3.
Lulusan-lulusan Perguruan Tinggi tersebut telah ditempatkan pada depo-depo
pemeliharaan sehingga dapat mengaplikasikan ilmunya untuk mendukung tugas pokok
TNI AU. Demikian juga temuan-temuan wacana yang ada di Universitas dapat kita
ikuti, salah satu wujudnya adalah tim dari ITB telah memaparkan hasil
penelitian/desainnya di depan personel TNI AU berupa pesawat terbang tanpa awak.
Apabila hal ini dapat terwujud, maka salah satu kebutuhan TNI AU dapat terjawab
yaitu pesawat intai.
Disamping hal tersebut perlu
saya informasikan bahwa dalam waktu dekat TNI AU akan mendapat tambahan alut
sista baik
yang sudah diterima maupun yang
akan diterima sebagai berikut :
a. Radar
sebanyak 2 unit dalam rangka pembangunan kosekhanudnas IV.
b. Pesawat latih colibri sebanyak 12 pesawat.
c. Pesawat latih KT-1 sebanyak 7 pesawat.
d. Pesawat sukhoi sebanyak 4 pesawat.
Alutsista tersebut sudah barang
tentu membawa teknologi baru yang dapat dipelajari bersama-sama dan pada saatnya
dapat diaplikasikan untuk kemajuan sendiri.
Apabila kita telusuri kembali
kerja sama yang telah dilaksanakan, dapat kita ketahui bahwa hubungan antara TNI
AU dengan industri pertahanan strategis nasional/swasta dan Perguruan Tinggi
telah terjalin sejak lama. Kerja sama ini perlu ditingkatkan terutama untuk
mengatasi embargo, penguasaan teknologi dalam rangka menuju kemandirian.
Forum komunikasi Litbang
pertahanan pada hakekatnya adalah suatu forum untuk saling mengisi peluang yang
mungkin dapat dilakukan oleh masing-masing pihak baik dalam bidang peningkatan
kualitas sumber daya manusia maupun dalam bidang alih teknologi.
Kepada peserta forkom Litbang
pertahanan pada kesempatan ini saya mengharapkan untuk dapat membantu TNI AU
selain dalam bidang peningkatan kualitas sumber daya manusia, penelitian dan
pengembangan serta teknologi kedirgantaraan juga diharapkan mampu memberikan
alternatif solusi mengatasi embargo suku cadang terhadap alutsista yang dimiliki
TNI AU misalnya dengan mengadakan rekayasa suku cadang yang berbasis
elektronika. Alternatif pengadaan dan pembuatan suku cadang pesawat, radar, alat
komunikasi dan lain-lain di dalam negeri adalah kebutuhan sangat mendesak
dikaitkan dengan keterbatasan anggaran pertahanan dan kondisi politik luar
negeri yang kurang menguntungkan.
* Paparan Asrena Kasau pada
Acara Forum Komunikasi Litbang Pertahanan Ke-10 di Universitas Gajah Mada
Yogyakarta.
****
|