Buletin Terbaru

Nomor 22 Tahun 2009

Nomor  21 Tahun 2008

Nomor 20 Tahun 2008

ISSN 1412-0054

 

Tajuk

Penguasaan Iptek Guna Mewujudkan Kemandirian Dalam Penyelenggaraan Pertahanan Negara Memasuki abad XXI perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengakibatkan perubahan cepat bukan hanya di bidang teknologi itu sendiri, tetapi juga dalam tata kehidupan masyarakat global, baik di bidang ekonomi, sosial budaya, politik dan manajemen, ditambah dengan semakin meningkatnya issue dan tuntutan yang mengglobal seperti demokratisasi, HAM, dan lingkungan hidup.

Kepentingan Indonesia Membentuk Badan Otorita Nasional untuk Konvensi-Konvensi dan Traktar-Traktat di Bidang Perlucutan Senjata. Indonesia telah menandatangani beberapa konvensi dan trakat perlucutan senjata seperti Nuclear Non-Proliferation Treaty pada tahun 1970, Biological Weapons Convention (BWC) pada tahun 1972, Chemical Weapons Convention (CWC) pada tahun 1993, Comprehensive Nuclear-Test-Ban Treaty (CTBT) tahun 1996, dan Anti-personnel Landmines (APL) tahun 1997.

Kesiapan Alutsista TNI AU Seperti diketahui bersama bahwa selama ini TNI AU mengalami kesulitan dalam meningkatkan kesiapan operasional alutsistanya, dikarenakan adanya embargo dari Uni Eropa dan Amerika Serikat, disamping terbatasnya alokasi anggaran.

Pohon Kelapa dan Demokrasi Alangkah bangganya jadi pohon kelapa di Hawaii, di deretan pulau-pulau kecil ditengah lautan Pasific. Tempat dimana Pearl Harbour pernah dibombardir Jepang tahun 1941. Dipuja-puja, dikagumi. Pelepahnya lembut melambai-lambai dihembus angin laut.

Lepasnya Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan Sebuah Pelataran Kewaspadaan Putusan Mahkamah Internasional/MI,International Court of Justice (ICJ) tanggal 17-12-2002 yang telah mengakhiri rangkaian persi-dangan sengketa kepemilikan P. Sipadan dan P. Ligitan antara Indonesia dan Malaysia mengejutkan berbagai kalangan. Betapa tidak, karena keputusan ICJ mengatakan kedua pulau tersebut resmi menjadi milik Malaysia.

Perlunya Pembentukan Data Base dalam Rangka Implementasi SIG Untuk Kepentingan Pertahanan Beberapa kajian tentang pemanfaatan SIG untuk kepentingan pertahanan telah dilaksanakan, seperti yang telah dilaksanakan Balitbang Dephan pada TA.2001 melalui kajian tentang Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk kepen-tingan pertahanan; namun sampai saat ini belum secara optimal SIG diterapkan di lingkungan Departemen Pertahanan.

Bom Yang Kian Presisi dan Pemilih Laiknya kunci dan anak kunci, sebuah pesawat pembom tentu tak lengkap tanpa bom. Keduanya adalah pa-sangan yang tak bisa dipisahkan dalam sebuah operasi pemboman. Itulah sebabnya ketika kinerja dan sosok pembom kian canggih, bom pun mengikutinya.

Strategi Pengembangan Perbatasan Wilayah Kedaualatan NKRI Perbatasan negara merupakan manifestasi utama kedaulatan wilayah suatu negara. Perbatasan suatu negara mempunyai peranan penting dalam penentuan batas wilayah kedaulatan, pemanfaatan sumber daya alam, menjaga keamanan dan keutuhan wilayah.

Perumusan dan Prioritas Teknologi Pertahanan untuk Mendukung Permasalahan Pertahanan Negara Umum. Upaya pertahanan negara tidak terlepas dari aspek ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan teknologi tetap merupakan kebutuhan yang sangat fundamental bagi pertahanan negara. Untuk mencapai kemajuan tersebut perlu adanya penguasaan teknologi sesuai tingkat perkembangan teknologi pertahanan yang pesat dan kompleks.

Pelaksanaan Fungsi Hukum Administrasi Negara dalam Mewujudkan Pemerintahan yang Baik Gagasan tentang penyelenggaraan kekuasaan yang baik, dari aspek historis di bawah ini, terdapat dua pendekatan; personal dan sistem. Secara personal telah dimulai pada masa Plato.

New Page 1 New Page 1

KESIAPAN ALUTSISTA TNI AU

oleh :

Marsekal Muda TNI Rukma Susetyasta, Asrena Kasau


Seperti diketahui bersama bahwa selama ini TNI AU mengalami kesulitan dalam meningkatkan kesiapan operasional alutsistanya, dikarenakan adanya embargo dari Uni Eropa dan Amerika Serikat, disamping terbatasnya alokasi anggaran. Penurunan kesiapan alutsista, sangat terasa pada kesiapan pesawat terbang dan radar. Melalui forum Komunikasi Litbang dan dengan kerjasama yang sudah dirintis selama ini, diharapkan dapat dicari jalan keluar bagaimana TNI AU mengurangi ketergantungan dari pihak luar, menuju kemandirian dalam pengadaan dan pemeliharaan alutsista.

Dalam doktrin TNI AU swa Bhuwana Paksa tercantum tugas pokok TNI AU sebagai berikut :

  • Selaku penegak kedaulatan negara di udara mempertahankan keutuhan wilayah udara nasional dan integritas bangsa bersama-sama dengan segenap komponen kekuatan pertahanan negara lainnya, serta menyelenggarakan penegak hukum di wilayah udara nasional.

  • Mengembangkan potensi nasional menjadi kekuatan pertahanan negara aspek udara.

  • Melaksanakan bhakti TNI AU dalam rangka mendukung pemerintah untuk misi kemanusiaan dan membantu menanggulangi bencana alam yang terjadi di dalam ataupun di luar negeri serta kepentingan kesejahteraan rakyat.

  • Ikut berperan aktif dalam tugas-tugas pencapaian dan pemeliharaan perdamaian di bawah misi PBB dalam rangka mewujudkan perdamaian dunia.

Untuk mendukung tugas pokok di atas, TNI AU telah dilengkapi dengan unsur-unsur sebagai berikut :

  • Personel

  • Organisasi

  • Software

  • Alutsista

  • Fasilitas perlengkapan

Dari ke-5 unsur tersebut, ada 2 unsur yang kesiapannya sangat tergantung kepada luar negeri yaitu : Alutsista (Alat Utama Sistem Senjata yang terdiri dari Pesawat Terbang, Radar, Peluru kendali, Meriam Hanud) dan fasilitas peralatan (Runway : Alat-alat bantu navigasi dan lain-lain). Apabila kita bicara tentang hal tersebut, tentu sangat erat kaitannya dengan anggaran yang tersedia.

Bagaimana kondisi dari alutsista yang dipunyai oleh TNI AU saat ini ? kekuatan nyata alutsista TNI AU saat ini terdiri dari 252 unit pesawat terbang dan 16 unit radar serta tidak mempunyai peluru kendali dengan rincian sebagai berikut :

a.     Pesawat Tempur (89 pesawat) :

  • F-16 Fighting Falcon, kekuatan 10 pesawat

  • F-5 Tiger, kekuatan 12 pesawat.

  • A-4 Sky Hawk, kekuatan 17 pesawat.

  • Hawk 100/200, kekuatan 35 pesawat.

  • Mk-53, kekuatan 9 pesawat.

  • OV-10 Bronco, kekuatan 9 pesawat.

Kesiapan rata-rata 25 pesawat (28 %).

b.     Pesawat Latih (66 pesawat) :

  • AS-202 Bravo, kekuatan 27 pesawat

  • T-34 Charli, kekuatan 16 pesawat

  • SF-260 Marchetti, kekuatan 19 pesawat

  • KT-1B, kekuatan 4 pesawat

Kesiapan rata-rata 45 pesawat (68 %)

c.     Pesawat Intai (3 pesawat) :

  • B-737, kekuatan 3 pesawat.

  • Untuk mendukung kesiapan pesawat intai agar laik misi, TNI AU memiliki 4 (empat) set mission equipment yang diinstalasi pada 3 (tiga) pesawat dan 1 (satu) buah FGS (Fixed Ground station).

Kesiapan rata-rata 1 pesawat (33 %).

d.     Pesawat angkut (4 pesawat) :

  • C-130 KC Tanker, kekuatan 2 pesawat

  • F-27 TS, kekuatan 6 pesawat

  • CN-235, kekuatan 6 pesawat

  • C-212 casa, kekuatan 7 pesawat

  • C-130B, kekuatan 10 pesawat

  • C-130H, kekutan 10 pesawat

Kesiapan rata-rata 14 pesawat (34 %)

e.     Pesawat VIP (12 pesawat) :

  • F-27 VIP, kekuatan 1 pesawat.

  • F-28 VIP, kekuatan 3 pesawat.

  • C-130 VIP, kekuatan 2 pesawat.

  • NAS-332 VIP, kekuatan 5 pesawat.

  • B-707 VIP, kekuatan 1 pesawat.

Kesiapan rata-rata 9 pesawat (75 %).

f.     Pesawat Helikopter (41 pesawat) :

  • BELL-47 G/SOLLOY, kekuatan 12 pesawat

  • S-58 T/SIKORSKY, kekuatan 9 pesawat

  • SA-330 PUMA, kekuatan 9 pesawat

  • Latih Colibri sebanyak 8 pesawat

  • NAS-332 sebanyak 3 pesawat.

Kesiapan rata-rata 22 pesawat (54 %)

g.     Radar :

  • 10 unit radar Early Warning (EW)

  • 6 unit radar Ground Control Interception (GCI)

  • 4 pusat operasi hanud dan 1 dalam proses pembangunan

Kesiapan operasi rata-rata 8 jam/hari dari sasaran 12 jam/hari.

h.     Senjata Hanud Vertikal.

Senjata hanud vertikal yang ada saat ini terdiri dari tripple gun hispano buatan tahun 1956 dan cannon 30 mm buatan tahun 1942.

Dari penjelasan di atas terlihat bahwa kekuatan pesawat terbang 252 pesawat, kesiapan rata-rata 116 pesawat (sekitar 46 %).

Kesiapan alutsista yang rendah tersebut dikarenakan keterbatasan dukungan anggaran. Oleh karena itu untuk mempertahankan kesiapan alutsista yang ada saat ini, setiap tahun dibutuhkan anggaran.

Sebanyak Rp. 6,2 Trilyun, sedangkan alokasi anggaran yang diterima hanya sebesar Rp. 350 Milyar (5,6 %). Alokasi anggaran yang diterima saat ini sebagian besar digunakan untuk pengadaan dan perbaikan suku cadang. Permasalahan tersebut di atas semakin dipersulit dengan adanya embargo dari negara-negara Uni Eropa dan Amerika Serikat.

Karena rendahnya kesiapan alutsista khususnya pesawat, maka alokasi jam terbang yang dapat disiapkan menjadi sangat kurang. Hal ini akan mengakibatkan penurunan profesionalisme dan tingkat ketrampilan para penerbang. Untuk mendukung profesionalisme para penerbang, minimal dibutuhkan 15 jam terbang untuk penerbang pesawat tempur dan 20 jam terbang untuk pesawat angkut perorang perbulan.

Hal di atas tidak pernah tercapai, oleh karena itu untuk memelihara profesionalisme tersebut ditempuh upaya-upaya menugaskan perwira penerbang bertugas di Staf serta menggunakan pesawat Marchetti (Hibah dari pemerintah Singapura) dan latihan Simulator.

TNI AU sangat menyadari bahwa ketergantungan pada negara-negara barat kurang menguntungkan, sehingga salah satu solusinya adalah pengadaan pesawat ke negara lain misalnya Eropa Timur yang tidak bergabung dengan Nato (contoh : Pengadaan pesawat Sukhoi dari Rusia). Disamping itu pemberdayaan industri strategis nasional/ swasta dan Perguruan Tinggi menjadi salah satu alternatif solusi dalam pemecahan masalah tersebut.

Saat ini TNI AU telah mengikat kontrak pengadaan perbaikan alutsista dengan PT. Dirgantara Indonesia antara lain sebagai berikut :

a.     Pengadaan 16 pesawat Helikopter super puma NAS-332 dengan kontrak Nomor : KJB/010/DN/M/1998 tanggal 9 Pebruari 1998.

b.     Pengadaan 3 pesawat CN-235 MPA dengan kontrak Nomor : KJB/009/DN /M/1996 tanggal 22 Juni 1996.

c.     Re-engine/Refurbishment Pesawat Helikopter Puma SA-330 dengan kontrak Nomor : KJB/019/DN/M/2000 tanggal 22 Pebruari 2000.

d.     Refungsionalisasi Ops Cabin radar.

e.     Kontrak-kontrak kerjasama yang lain dengan SBU (Strategic Business Unit) ACS (Air Craft Services), SBU UMC (Universal Maintenance Center), SBU SMA (Special Mission Aircaft) dan SBU TES (Technologi Engineering & Service).

Kontrak-kontrak tersebut di atas sudah beberapa kali diadakan amandemen dikarenakan delivery yang selalu tidak tepat waktu. Dari sisi pendanaan TNI AU berusaha untuk memenuhi pembayaran, namun disesuaikan dengan prestasi/kemajuan pekerjaan. Hal ini sangat mengurangi kepercayaan dari pihak TNI AU.

Langkah-langkah lain yang ditempuh TNI AU adalah memberdayakan Dislitbangau dengan mengalokasikan sejumlah anggaran untuk mengadakan pengkajian dan penelitian serta pembuatan suku cadang. Beberapa prestasi yang telah dihasilkan antara lain :

a.     Bom tajam BT-250 bekerja sama dengan PT. Pindad dan PT. Batara dan saat ini sudah mendapat sertifikat dan sudah produksi.

b.     Bom latih asap bekerjasama dengan PT. Pindad.

c.     Drag chute pesawat F-16 sudah sampai pembuatan prototipe.

d.     High drag bomb masih dalam proses pembuatan prototipe.

e.     Pembuatan roket propellant bekerja sama dengan Lapan dan PT. Dahana.

Kegiatan Litbang TNI AU TA. 2003 dan TA. 2004.

a.     Redesain dan pembuatan fasilitas uji statis motor rocket tahap II. Tujuannya adalah untuk membangun laboratorium propellant Dislitbangau agar dapat melaksanakan uji statis motor roket dengan baik.

b.     Penelitian dan pembuatan blast effect anti personel bomb tahap I bekerjasama dengan PT. Pindad. Tujuannya agar diperoleh bom anti personel dengan fragmentasi yang telah ditentukan dan me-ngurangi ketergantungan khususnya pemenuhan kebutuhan bom.

c.     Penelitian dan pengkajian penggunaan bom MK-I dan bom MK-12 pada pesawat F-16. Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan bom dan mengurangi ketergantungan terhadap luar negeri.

d.     Penelitian dan pembuatan adapter trolley stand engine F-100 tahap I. Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan Skatek 042 Lanud IWJ Madiun.

e.     Penelitian dan pengkajian serta refungsionalisasi harmonisasi sistem persenjataan pesawat F-16 tahap I. Tujuannya adalah untuk menambah kemampuan Skadron 3 Lanud IWJ Madiun dalam melakukan harmonisasi senjata pesawat F-16.

f.     Penelitian dan pengembangan laboratorium elektronika AAU. Tujuannya adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan dan kualitas laboratorium elektronika AAU.

Selanjutnya rencana kegiatan Litbang TNI AU TA. 2004 antara lain :

a.     Melanjutkan penelitian dan pembuatan prototipe blast effect anti personel bomb tahap II bekerjasama dengan PT. Pindad.

b.     Melanjutkan penelitian dan pembuatan adapter trolley stand engine F-100 tahap II.

c.     Melanjutkan penelitian dan refungsionalisasi harmonisasi sistem persenjataan pesawat F-16 tahap II.

d.     Penelitian dan pembuatan enkripsi/dekripsi sinyal suara dengan DSP (Digital Signal Processor) guna pengamanan informasi antar satuan. Tujuannya adalah terbentuknya sistem pengamanan suara melalui jalur telepon untuk digunakan komando antar Lanud (Satuan).

Untuk mengurangi ketergantungan dengan pihak luar dan meningkatkan kemandirian industri pertahanan khususnya yang berkaitan dengan alutsista, TNI AU sangat mengharapkan kerjasama berlanjut dengan industri strategis untuk memenuhi kebutuhan alutsista antara lain :

a.     Kebutuhan 14 anti radar

b.     Kebutuhan pesawat latih (Rotary wing dan fixed wing)

c.     Kebutuhan spare part pesawat tempur dan angkut seperti engine, avionic dan sistem persenjataan.

d.     Kebutuhan spare part pesawat helikopter seperti main gear box.

e.     Kebutuhan pengembangan sistem informasi intelijen dan logistik (ALMS).

f.     Kebutuhan pesawat tanpa awak/berawak untuk keperluan air surveillance.

g.     Kebutuhan pengembangan sistem peluru kendali jarak pendek dan sedang.

h.     Kebutuhan meriam Penangkis Serangan Udara (PSU).

i.     Kebutuhan modifikasi alat pemotretan udara.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut sangat diharapkan partisipasi dari kalangan industri strategis nasional/swasta dan Perguruan Tinggi serta pihak-pihak lain yang memungkinkan untuk berpartisipasi.

Dalam upaya meningkatkan sumber daya manusia, TNI AU telah menjalin kerjasama dengan beberapa Perguruan Tinggi antara lain : ITB, UI, UGM dan ITS dalam program sarjana S-1, S-2 maupun S-3. Lulusan-lulusan Perguruan Tinggi tersebut telah ditempatkan pada depo-depo pemeliharaan sehingga dapat mengaplikasikan ilmunya untuk mendukung tugas pokok TNI AU. Demikian juga temuan-temuan wacana yang ada di Universitas dapat kita ikuti, salah satu wujudnya adalah tim dari ITB telah memaparkan hasil penelitian/desainnya di depan personel TNI AU berupa pesawat terbang tanpa awak. Apabila hal ini dapat terwujud, maka salah satu kebutuhan TNI AU dapat terjawab yaitu pesawat intai.

Disamping hal tersebut perlu saya informasikan bahwa dalam waktu dekat TNI AU akan mendapat tambahan alut sista baik

yang sudah diterima maupun yang akan diterima sebagai berikut :

a.     Radar sebanyak 2 unit dalam rangka pembangunan kosekhanudnas IV.

b.     Pesawat latih colibri sebanyak 12 pesawat.

c.     Pesawat latih KT-1 sebanyak 7 pesawat.

d.     Pesawat sukhoi sebanyak 4 pesawat.

Alutsista tersebut sudah barang tentu membawa teknologi baru yang dapat dipelajari bersama-sama dan pada saatnya dapat diaplikasikan untuk kemajuan sendiri.

Apabila kita telusuri kembali kerja sama yang telah dilaksanakan, dapat kita ketahui bahwa hubungan antara TNI AU dengan industri pertahanan strategis nasional/swasta dan Perguruan Tinggi telah terjalin sejak lama. Kerja sama ini perlu ditingkatkan terutama untuk mengatasi embargo, penguasaan teknologi dalam rangka menuju kemandirian.

Forum komunikasi Litbang pertahanan pada hakekatnya adalah suatu forum untuk saling mengisi peluang yang mungkin dapat dilakukan oleh masing-masing pihak baik dalam bidang peningkatan kualitas sumber daya manusia maupun dalam bidang alih teknologi.

Kepada peserta forkom Litbang pertahanan pada kesempatan ini saya mengharapkan untuk dapat membantu TNI AU selain dalam bidang peningkatan kualitas sumber daya manusia, penelitian dan pengembangan serta teknologi kedirgantaraan juga diharapkan mampu memberikan alternatif solusi mengatasi embargo suku cadang terhadap alutsista yang dimiliki TNI AU misalnya dengan mengadakan rekayasa suku cadang yang berbasis elektronika. Alternatif pengadaan dan pembuatan suku cadang pesawat, radar, alat komunikasi dan lain-lain di dalam negeri adalah kebutuhan sangat mendesak dikaitkan dengan keterbatasan anggaran pertahanan dan kondisi politik luar negeri yang kurang menguntungkan.

* Paparan Asrena Kasau pada Acara Forum Komunikasi Litbang Pertahanan Ke-10 di Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

****

Balitbang Dephan
Jl. Jati N0. 1 Pondok Labu
Jakarta Selatan 12450
Tlp. 7502086 Fax. 7504466
e-mail: buletinlitbang@dephan.go.id

Litbang Pertahanan Indonesia merupakan media internal sebagai sarana penyebarluasan dan pengembangan pemikiran terutama menyangkut Iptek, Industri, SDM, Strategi Pertahanan, serta fora nasional dan internasional yang terkait dengan upaya penyelenggaraan Pertahanan Negara.

Tulisan yang ada di dalamnya tidak harus merupakan pencerminan pendapat resmi Balitbang Dephan.

Pengutipan tulisan yang ada dalam Buletin ini harus seijin Redaksi